AL-HIDAYAH SCOUT MOVEMENT

AL-HIDAYAH SCOUT MOVEMENT

Kamis, 05 Januari 2012

Wisata Sejarah


MAKAM KI AGENG SELO
“ SANG PENANGKAP PETIR “
A. Silsilah
            Menurut silsilah, Ki Ageng Selo adalah keturunan dari Brawijaya terakhir. Beliau moyang dari pendiri kerajaan Mataram yaitu Sutawijaya. Termasuk Sri Sultan Hamengku Buwono X (Yogyakarta) maupun Paku Buwono XIII (Surakarta). Jadi Beliau adalah penurun Raja-Raja di tanah jawa
            Prabu Brawijaya terakhir menikah dengan putri Wandan kuning dan dari pernikahannya lahirlah seorang putera yang bernama Bondan Kejawan/ Lembu Peteng yang diangkat sebagai murid Ki Ageng Tarub. Bondan Kejawan atau Lembu Peteng kemudian dinikahkan  dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Mereka dikaruniai seorang putera yang diberi nama Ki Getas Pendowo ( makamnya di Kuripan, Purwodadi). Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh yaitu Ki Ageng Selo, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya.
            Ki Ageng gemar bertapa di hutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi-bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Salah satu murid tercintanya adalah Mas Karebet/Joko Tingkir yang kemudian jadi Sultan Pajang Hadiwijaya, menggantikan dinasti Demak.
            Putra Ki Ageng Selo berjumlah tujuh orang, salah satunya Kyai Ageng Enis yang berputra Kyai Ageng Pamanahan. Ki Pemanahan beristri putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya. Melalui perhelatan politik Jawa kala itu akhirnya Sutawijaya mampu mendirikan kerajaan Mataram menggantikan Pajang.

B. Menangkap Petir
            Peristiwa ini terjadi Ketika Sultan Trenggana ( Sultan Demak ) masih hidup . Pada suatu hari Ki Ageng Selo pergi ke sawah ( Sekarang sawah tersebut dinamakan sawah mendung, tetapi ada juga sebagian masyarakat yang menyebutnya “ Sawah Subanlah dari kata Subhanallah “ karena sawah itu dulunya dipakai oleh KI Ageng Selo untuk sholat tasbih. Sawah ini terletak di dusun Kauman, desa Selo, ). Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Selo tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ Bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, namun dengan sigap Ki Ageng Selo menangkap bledheg tersebut.  Bledheg itu berwujud seekor ayam jantan yang tubuhnya dipenuhi dengan api. Ayam itu kemudian dibawa pulang dan diikat di pohon gandri (  nama latinnya Bridelia Monoica). Malam telah tiba, dan waktu semakin gelap. Ki Ageng selo pun  menyalakan lampu teploknya.

Konon diceritakan bahwa Ki Ageng Selo menyalakan lampu teplok itu dengan api yang menyala dari tubuh ayam jantan, jelmaan bledheg yang ditangkap KI Ageng Selo. Api dilampu teplok tersebut ( Api bledheg ) hingga kini masih menyala, disimpan di almari di samping makam Ki Ageng Selo. Sesaat setelah Ki Ageng Selo menyalakan lampu teplok, ada seorang nenek-nenek yang membawa kendi sedang mencari ayam jantannya. KI Ageng pun memperlihatkan ayam jantan jelmaan  bledheg yang ditangkapnya. Setelah dilihat dengan seksama, nenek itu mengatakan kalau ayam itu adalah ayamnya yang sedang ia cari. Kemudian nenek tersebut menyiramkan air ke ayam jantan dan “ Gelegar “ bersamaan dengan suara bledheg menggelegar, nenek tua dan ayam jantan itu pun lenyap, hilang tak tahu kemana.

C. Larangan Menjual Nasi
Suatu hari ada dua orang pemuda yang bertamu ke rumah Ki Ageng Selo, Mereka bermaksud hendak belajar ilmu agama pada KI Ageng Selo. Sebagai tuan rumah yang baik, KI Ageng selo menghidangkan nasi pada mereka, namun mereka menolakya dengan alasan masih kenyang. Setelah merasa sudah cukup ( belajar ilmu agama ), kedua pemuda itu pun memohon untuk pamit pulang. Sepulang dari rumah Ki Ageng, kedua pemuda itu tidak langsung pulang, melainkan mampir ke warung nasi dulu untuk makan. KI Ageng Selo melihat hal itu. Beliau merasa sakit hati dan setelah itu beliau berkata “ Orang-orang di desa selo tidak boleh menjual nasi, kalau ada yang melanggarnya maka bledheg akan menyambar-nyambar di langit desa Selo “. Hingga saat ini penduduk yang tinggal di sekitar Komplek Makam KI Ageng Selo tidak ada yang menjual nasi.

D. Napak Tilas KI Ageng Selo




Makam KI Ageng Selo
Terletak di dusun Krajan, RT II RW 02, Desa Selo Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Tempat ini juga merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Grobogan karena mengandung nilai-nilai sejarah yang luar biasa.



Masjid KI Ageng Selo

Terletak di sisi timur makam KI Ageng Selo. Masjid ini mengalami renofasi dan penambahan di bagian serambi dan tempat wudhu, namun bagian dalam masjid masih asli tanpa mengalami perombakan. Pada Tahun 2004 Kubah Masjid KI Ageng selo terkena sambaran petir yang berakibat kubah itu hancur dan plafon Madrasah yang terletak di sebelah selatan Makam KI Ageng Selo juga hancur berantakan. Hal itu menggegerkan masyarakat Selo, dikarenakan telah bertahun-tahun petir tak pernah menyambar-nyambar di desa tersebut

Almari Api Bledheg
Adalah sebuah almari kayu yang bagian kaca depannya ditutup rapat dengan kain. Almari ini terletak disamping Makam KI Ageng Selo dan digunakan untuk menyimpan “ Api Bledheg “ ( Api  dari bledheg yang ditangkap KI Ageng Selo ). Konon api ini digunakan untuk menyalakan tungku yang ada di Keraton Surakrta pada bulan Muharam.


Sawah Mendung / Sawah Subanlah


Pohon Gandri

Sawah ini terletak di dusun Kauman, Desa Selo Kecamatan Tawangharjo, sekitar 200 meter dari Makam Ki Ageng Selo. Diceritakan bahwa disinilah KI Ageng selo menangkap bledheg. Sawah ini juga sering digunakan oleh KI Ageng Selo untuk melakukan sholat tasbih, sehingga juga disebut sholat subanlah dari kata subhanallah. Sampai sekarang sawah ini masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.


Bridelia Monoica adalah nama latinnya. Di pohon inilah bledheg yang ditangkap KI Ageng Selo diikat.

   
 E. Tempat-tempat penting yang masih berkaitan dengan KI Ageng Selo
1. Makam  KI Ageng Tarub
            Terletak di desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan sekitar 4 Km dari Makam KI Ageng Selo. Beliau adalah Buyut dari KI Ageng Selo. Di komplek Makam ada gentong yang airnya berasal dari sendang bidadari.

Gapura Makam KI Ageng Taruub


Makam KI Ageng Tarub

Area Komplek Makam KI Ageng Tarub

Gentong yang berisi air dari sendang bidadari










2. Makam Bondan Kejawan / Lembu Peteng ( Kakek KI Ageng Selo )
            Terletak di dusun Mbarahan Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Sekitar 3 Km dari Makam KI Ageng Selo. Di area komplek makam banyak di bangun patung dan stupa. Kini kondisinya semakin tidak terawat. Banyak patung yang mulai rusak. Namun masih banyak orang yang datang untuk berziarah

Makam Bondan Kejawan

Gapura Makam Bondan Kejawan  


 


Patung-patung yang ada di komplek Makam Bondan Kejawan


3. KI Ageng Getas Pendowo
            Beliau adalah Bapak dari KI Ageng Selo. Makamnya terletak di Kuripan Purwodadi sekitar 15 Km dari Makam KI Ageng Selo.

Gapura Makam Ki Ageng Getas pendowo

Makam KI Ageng Getas Pendowo

Rabu, 04 Januari 2012

SEKOLAHKU BUKAN SEKOLAH VERSI DRAMA

SCENE 1
1. INT : DI RUMAH UDINMALAM HARI
PEMAIN :
1. Pak Bahruddin
2. Pak Narto
3. Udin
            (Di sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Salatiga, Desa Kali Bening, hiduplah sekelompok masyarakat yang notabene adalah Komunitas Pesantren . Pak Bahruddin, Ayahnya Hilmy adalah seorang tokoh masyarakat di daerah itu. Dia ingin mendirikan sebuah sekolah yang akan menjadi wadah bagi siswanya untuk mengembangkan ekspresi dan potensi siswanya tanpa adanya sustu kekangan. Pada suatu hari Pak Bahruddin  datang ke rumah Pak Narto, Ayah Udin untuk membicarakan masalah sekolah yang akan dikembangkannya itu serta meminta Pak Narto agar menyekolahkan Udin di sekolah tersebut ).
Pak Bahruddin
:
“Tok…tok…tok Assalamu’alaikum Wr. Wb.”
Pak Narto
:
Wa’alaikum salam Wr. Wb. Oh Pak Bahruddin,            mari silahkan masuk. Wah ada angin apa Pak Bahruddin kok menyempatkan diri mampir ke gubuk saya ini”              ( Pak Narto mempersilahkan Pak Bahruddin duduk             di ruang tamu ). 
Pak Bahruddin
:
”Begini lho Pak… ( Pak Bahruddin menarik nafas perlahan kemudian menghembuskannya ). Saya punya rencana mau mendirikan sebuah sekolahan. Sekolahan ini akan  menerapkan peraturan yang sehat, dengan kebebasan yang berprinsip dan ditujukan untuk mengembangkan kreatifitas dan ekspresi siswa. Sekolahan ini kami beri nama Alternatif School.”
Pak Narto
:
”Wah Pak Bahruddin anda benar-benar jenius. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jika anda yang terpilih menjadi presiden. Pasti tidak akan  ada lagi anak yang seperti kakak-kakaknya si Udin. Mereka putus sekolah tanpa arah yang jelas.”
Udin
:
( Udin membuka pintu kamar sedikit dan perlahan, ingin melihat ekspresi Pak Baruddin saat dipuji oleh ayahnya )
Pak Bahruddin
:
”Bagaimana, Pak ? Udin boleh bergabung membangun sekolah yang sehat ini bersama kami.”
Pak Narto
:
“Subhanallah ….”( Pak Narto menggelengkan kepala dan terdengar pelan sedang memuji kebesaran tuhan sambil sesekali mengusap air mata yang keluar dari kelopak matanya )
Pak Bahruddin
:
“Ini Pak, tisu dan embernya biar nanti tidak banjir disini.”
Pak Narto
:
Maaf  Pak, saya  saya selalu begini kalau mendengar sesuatu yang mengharukan. Maklum sudah paketan dari lahir.”
Pak Bahruddin
:
“Ini sekolah untuk semua, Pak. Tidak butuh uang gedung yang mahal. Rumah saya akan saya sulap menjadi sebuah ruangan dimana anak-anak bisa mengungkapkan uneg-uneg mereka disana. Masalah pembangunan laborat, Desa kita yang hijau ini akan kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.”
Pak Narto
:
“Saya serahkan semua pada Udin, saya yakin ini memang pilihan dia.”
Pak Bahruddin
:
“Nanti malam, bapak datang ke rumah saya untuk mengikuti rapat tentang sistem persekolahan kita. Kita akan melakukan suatu perubahan baru tentang pendidikan Indonesia.”






SCENE 2
PEMAIN :
1. Pak Achmad                       4. Didil                        7. Udin                                   
2. Hilmy                                  5. Fina
3. Rara                                     6. Emy

2. INT : DI DALAM KELASPAGI HARI
            ( Enam orang siswa dan seorang Guru sedang asyik menikmati proses belajar mengajar di sekolah barunya, Alternatif School ).
Pak Achmad
:
“Assalamu’alaikum Wr. Wb.”
Semua Siswa
:
“Wa’alaikum salam Wr. Wb.” (Jawab semua siswa serempak ).
Pak Achmad
:
“Untuk memulai pelajaran pada pagi hari ini mari kita berdoa bersama-sama. Berdoa mulai ….selesai!. Sekarang pelajaran Biologi. Pada kesempatan kali ini kita akan melakukan penelitian secara langsung. Rara dan Emy kalian berdua dapat tugas membuat artikel tentang bunga. Fina dan Didil, kalian dapat tugas membuat artikel tentang pohon mangga. Sedangkan Udin dan Hilmy kalian dapat tugas membuat artikel tentang tanaman padi.”
Hilmy
:
“Wah… harus ke sawah ni pak!.”
Pak Achmad
:
“Ya iya lah, masak ke sungai emang mau mandi ?.”
Rara
:
“Wah…cocok banget tu Pak Hilmy kan kayak orang-orangan sawah.”
Hilmy
:
“Enak aja wajah kayak Ariel Peterpan gini dibilang kayak orang-orangan sawah.”
Emy
:
“Wow…Ariel Peterpan yang sedang manjat pohon pisang kali….”
Fina
:
“Hu…..a…...ha……ha……ha.”
Hilmy
:
“Awas kalian .” ( Hilmy mengepalkan tangannya ).
Pak Achmad
:
“Sudah-sudah kalian ini ribut melulu segera laksanakan tugas.”
SCENE 3
PEMAIN :
  1. Udin
  2. Hilmy
3. EXT : SAWAH – PAGI HARI
            ( Udin dan Hilmy sedang asyik melaksanakan tugas di sawah. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seekor hewan yang mereka belum kenal ).
Hilmy
:
“Eh Din….Din apaan tuh.”
Udin
:
( Udin melongok kemudian  menggeser serampangan padi dan ngedekatin ). “ Cacing .”
Hilmy
:
“Bukan, binatang aneh.”
Udin
:
“Iya tapi apaan ?.”
Hilmy
:
“Apaan ya ! ( Hilmy memegang kepalanya, memutar otak ).
Udin
:
“Gampang nanti kita cari di internet. Sudah, ayo kembali ke kelas.” ( setelah menyelesaikan penelitian tanaman padi Udin dan Hilmy kembali ke kelas sambil membawa binatang aneh yang mereka temukan ).
SCENE 4
PEMAIN :
1. Pak Achmad                       4. Didil                        7. Udin                                   
2. Hilmy                                  5. Fina
3. Rara                                     6. Emy
4. DI DALAM KEAS – PAGI MENJELANG SIANG
            ( Setelah menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Achmad, murid-murid Alternatif School kembali ke kelas untuk mempresentasikan hasil penelitiannya ).




Hilmy
:
“Wah kurang ajar banget mereka” ( Gerutu Hilmy ).
Didil
:
“Mereka siapa maksudmu Hil ?”
Hilmy
:
“Itu tu anak SMP Regular”
Fina
:
“Emangnya ada apa dengan mereka?” ( Tanya Fina sambil membenahkan kerudungnya yang kendor )
Hilmy
:
“Masak ……. Saat aku sama Udin melakukan penelitian    di sawah tadi mereka bilang gini, Idih-idih …sekolah kok di sawah sih. Nggak pakai seragam lagi. Jaman gaul men….Terus mereka tertawa terbahak-bahak”
Emy
:
“Terus kamu diam aja ?”
Hilmy
:
“Ya nggak lah!. Terus terang aku tidak terima sekolah kita dilecehkan seperti itu. Aku pasang kuda-kuda dan  tanganku ku kepalkan, siap meninju mereka. Gayaku persis si Jojon yang sedang beraksi di arena tinju. Tapi Udin payah aku baru mau melangkahkan kaki, e… Udin malah menekan pundakku dan menghentikan langkahku.”
Udin
:
( Udin hanya tersenyum dan masih sibuk memperhatikan binatang yang ditemukan di sawah ).
Rara
:
“Wih…apaan tuh Din” ( Rara, Didil, Fina dan Emy langsung mendekat kebinatang yang dipegang Udin )
Udin
:
“Bentar aku cariin” ( Nggak lama, udin langsung disibukkan dengan berbagai situs )
Udin
:
“Idih apaan tuh ? Bokong nyedit ?”
Pak Achmad
:
“Eit…diclose mas Udin. Itu nggak boleh kita lihat”              ( Pak Achmad yang terakhir mergokin langsung panik )
Udin
:
“Sorry Pak, sorry ….!.”
Hilmy
:
“Udah Din biar aku yang cari” ( Beberapa saat setelah    otak-atik sana-sini Hilmy akhirnya menemukan binatang yang persis sama binatang yang dibawa dari sawah ). “Ketemu……!. Ternyata dia punya nama salamander. Dia sejenis cacing yang punya kaki. Dia termasuk hewan amfibi yang bisa hidup di air dan di darat.”
Pak Achmad
:
“Sudah-sudah sekarang kembali ke tempat duduk masing-masing. Coba Pak Achmad mau tanya, Apakah Kalian sudah faham tentang fasilitas internet di sekolah ini  ?.”
Hilmy
:
( Hilmy diam menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santainya dan iseng korek kuping pakai pulpen ).
Udin
:
( Biasa saja, datar, dan nggak pakai senyum ).
Rara
:
“Belum tahu Pak !”
Pak Achmad
:
“Gunanya internet itu untuk membantu kita dalam proses belajar. Tapi disini ditegaskan tidak diperuntukkan untuk hal-hal yang…..yah ….. istilahnya tidak ada gunanya. Contohnya situs porno seperti tadi. Itu hanya akan merusak pikiran, kemudian masuk ke hati. Padahal tujuan sekolah kita bukan itu. Kita wajib belajar untuk meningkatkan kebaikan bukan memperburuk situasi.”
Emy, Fina, dan Didil
:
( Mengangguk-angguk tanda mengerti )
Pak Achmad
:
“Oke paham ya.”
Udin
:
“Kalau pornonya kartun pak ?.”
Pak Achmad
:
“Wah… kalau kartun…selama itu membuat fikiran kita jadi macem-macem ya tetep nggak boleh. Kalau bisa kita menjelajah komputer itu harus ke hal-hal aneh dalam tanda kutip. Taruhlah kita pingin seperti Albert Einsten. Suatu saat, syukur-syukur bisa ,mengemukakan penemuan pada komputer. Dan tentunya mesti diimbangi dengan ilmu lain seperti : Matematika, Fisika atau Ilmu Falak mungkin.”





Hilmy
:
“Ha…ha…ha…” ( Hilmy malah ketawa )
Pak Achmad
:
“Loh, segala sesuatu kan bisa terjadi !. Kalau kita yakin dan selama kita bisa melogika.”
Hilmy
:
“Nggak, bisa-bisanya computer sampai falak. Ha…ha…ha….”
Didil
:
“Wah… Hilmy mulai error nih, kacau anterin Ra ke Magelang.”
Rara
:
“Hidih…sorry nory straubery deh. Cemplon gituh….”
Hilmy
:
“Daripada kamu, Oneng!.”
Rara
:
“Cemplon.”
Hilmy
:
“Oneng”
Rara
:
“Cemplon.”
Hilmy
:
“Oneng”
Pak Achmad
:
“Eh, sut sst…..” ( Rara dan Hilmy diam ). “Teman-teman gimana kalau kita jadi saksi buat ijab qobul mereka.”
Didil,Fina dan Emy
:
“Setuju, Pak!. Itu ide yang bagus.”
Hilmy
:
“Idih… aku nggak mau Pak.”
Rara
:
“Aku lebih-lebih, Mplon !.”
Hilmy
:
“Aku, Oneng!.”
Rara
:
“Aku!”
Hilmy
:
“Aku!”
Pak Achmad
:
“Sudah-sudah.”
SCENE 5
PEMAIN :
1. Pak Achmad                       4. Didil                        7. Udin                                   
2. Hilmy                                  5. Fina
3. Rara                                     6. Emy
5. INT : DI DALAM KELASPAGI HARI
            ( Hari ini pelajaran English Morning. Udin yang tadi malam begadang telat masuk ke sekolah ).
Pak Achmad
:
“Oke, tell about your feeling after you entered in this school and some lesson. And of  course… with different away then the other.”
Udin
:
( Masuk kelas sambil mengendap-endap terus nyelonong duduk di satu kursi ).
Pak Achmad
:
“Udin, why do you come late ?.”
Udin
:
“Emm….still sleepy, Mister” ( Udin menjawab sambil tersenyum kemudian menguap ).
Rara
:
“Pak sebagai hukuman bagaimana kalau nyanyi.”
Pak Achmad
:
“Eit … in English please !”
Rara
:
“Mmm…belum bisa, Pak…” ( Rara bertingkah manja ).
Pak Achmad
:
“No problem we are learning together. How about your ideal ? Hm…..”
Rara
:
“Cita-citaku …apa ya??. Oh ya, aku ingin jadi Presiden.”
Semua Murid
:
“Ha…..”
Hilmy
:
“Apa?. Oneng mau jadi Presiden?. Apa kata Dunia!.”
Rara
:
“Nggak papa dong Plon!. Cita-cita kan memang harus tinggi. Iya nggak Pak?.”
Pak Achmad
:
( Pak Achmad tersenyum dan mengangguk pelan ).”And you Udin how about your ideal ?.”
Udin
:
( Udin kaget ). “Hm…..”
Fina
:
“Udin itu hobinya tidur, Pak. Paling-paling dia pingin jadi Dewa Mimpi kayak dalam film Kera Sakti.”
Emy
:
“Cocok banget tuh.”
Didil
:
“Iya, benar apa katamu cocok banget tuh.”
Udin
:
“Sok tahu loh. Kan aku yang punya cita-cita!.”





Rara
:
“Terus cita-citamu apa Din.”
Udin
:
“Soccer Mania.”
SCENE 6
PEMAIN :
1. Pak Achmad                       4. Didil                        7. Udin                                   
2. Hilmy                                  5. Fina                         8. Kame
3. Rara                                     6. Emy
6. EXT : LAPANGAN SEKOLAH - SORE
            ( Jam 15.30 WIB anak-anak Alternatif School ( Udin, Hilmy, Didil, Rara, Fina dan Emy ) sedang bermain sepak bola. Mereka dipandu Pak Achmad selaku sang wasit ).
Pak Achmad
:
Tim Hijau sudah siap ?.”
Udin, Rara dan Emy
:
“Siap, Pak.”
Pak Achmad
:
Tim Merah ?.”
Hilmy,Didil dan Fina
:
“Siap.”
Pak Achmad
:
“Baiklah, Kita mulai permainannya” ( Pak Achmad melemparkan bola ditengah lapangan tanda permainan dimulai ).
            ( Permainanpun dimulai anak Alternatif School begitu sangat bersemangat. Mereka saling mengumpan, menggiring dan menendang bola kesana-kemari. Hingga akhirnya terjadi accident kecil yang menimpa Udin ).
Udin
:
“Dukk! Aduh kepalaku kena.” ( Udin memegang kepalanya kesakitan ).
Emy
:
“Din …kamu nggak papa.”
Hilmy
:
“Woy, Udin. kamu nggak papa? Kamu masih kuat kan ?.”
Udin
:
“Ss…Sakit,  Hil. Kepalaku…..” ( Udin pingsan ).
Rara
:
“Kamu sih, Mplon. Nendang bolanya kenceng-kenceng nggak hati-hati lagi.”
Hilmy
:
“Ehh….Oneng akukan nggak sengaja.”
Didil
:
“Sudah-sudah, kita angkat rame-rame aja si Udin kewarungnya Mak Titin.”
Fina
:
“Ide bagus tuh ayo-ayo.”
Hilmy
:
“Me… tolongin Me. Ambilin bangku!.”
Kame
:
“Udin kenapa?.”
Fina
:
“Kepalanya kena bola terus pingsan.”
Kame
:
“Kok bisa gitu?.”
Hilmy
:
“Udah… kamu nanyanya entar aja. Sekarang ambilin minyak kayu putih.”
Kame
:
( Kame masuk ke dalam warung kemudian keluar dengan membawa minyak kayu putih ). “Ini Hil….”
Didil
:
“Sini biar aku saja yang ngurut’. ( Didil mengurut kepala dan lengan Udin ).
Emy
:
“Eh…sudah jam setengah lima nih. Aku harus segera pulang .”
Fina
:
“Wow…jam setengah lima ya. Aku juga harus segera pulang .”
Hilmy
:
“Kalau gitu kami pulang dulu ya Me. Tolong tungguin si Udin. Habis mandi dan sholat kami  kesini lagi.”
Kame
:
“Ya.”
            ( Sekarang tinggal Kame dan Udin di warung itu. Sambil menunggu Udin sadar Kame mengambil tabloid yang ada di dekatnya kemudian membacanya ).
Udin
:
( Udin sadar dan kaget karena hanya ada Kame yang di sampingnya ).
Kame
:
“Eh… udah sadar Din ? ( Kame menatap Udin setelah tabloid itu diabaikan ).
Udin
:
“Anak-anak mana ?”
Kame
:
“Sudah pulang. Ini kan sudah Maghrib.”





Udin
:
“Oh…” ( Udin nyengir sambil menahan rasa nyeri di dadanya ).
Kame
:
“Kalau mau pulang biar aku anterin ….”
Udin
:
“Eh…Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri.”
Kame
:
“Yakin? kau masih kuat ?”
Udin
:
( Udin tersenyum kemudian bangkit ). “ Makasih, Me. Kau hati-hati kalau ada sundel bolong mampir…..”
Kame
:
“Iiih …sialan.”
            ( Dari kejadian itu, mulaiah tumbuh perasaan cinta dalam diri Udin pada Kame. Tapi Udin tidak berani menyatakannya dan memilih untuk menyimpannya dalam hati )
SCENE 7
PEMAIN :
  1. Rara                 4. Fina
  2. Didil                5. Hilmy
  3. Emy
7. INT : DI DALAM KELAS - PAGI
            ( Setahun berlalu. Alternatif School berkembang dengan baik murid-muridnya banyak yang mampu membuktikan hasil belajarnya. Fina, dia membuktikan kalau artikel Onlinenya dapat menumbangkan saingannya yaitu seorang kepala sekolah dari SMA Unggulan di Salatiga. Rara menulis Esai yang kemudian dimuat di media Indonesian-Aussea. Emy jadi artisnya Kompas, dan masih banyak yang lainnya. Namun dibalik keberhasilan itu, Alternatif School mulai diguncang beberapa masalah. Antara lain pengaruh buruk yang dibawa Didil sepulang dari kota ).
Rara
:
( Emy, Rara dan Fina masuk kelas. Mereka terkejut melihat kelakuan si Didil ).“Hai, Dil! Kamu kok ngerokok di dalam kelas sih !.”
Didil
:
“Lho disinikan bebas berekspresi dan melakukan apa aja.”
Emy
:
“Bebas ya bebas…tapi bebas yang dimaksud disini adalah bebas yang mengarah pada kebaikan.”
Fina
:
“Dengerin tuh apa yang dikatakan Emy.”
Didil
:
“Ah… cerewet kalian!.”
Hilmy
:
( Hilmy masuk kelas. Ia pun kaget malihat kelakuan            si  Didil ). “ Lho…kamu ngerokok Dil !.”
Didil
:
“Begini nih yang dinamakan anak gaul.”
Hilmy
:
“Tapi kan di sekolah ini tidak pernah diajari hal seperti itu!. Ntar ku bilangin Pak Achmad lho…!”
Didil
:
“Awas kalau kamu bilang sama Pak Achmad !.” ( Didil mengepalkan tinjunya kearah Hilmy kemudian pergi meninggalkan kelas )
SCENE 8
PEMAIN :
  1. Didil
  2. Udin
  3. Pak Achmad
8. INT : DI DALAM RUANG KOMPUTER – SIANG HARI
            ( Pak Achmad memasuki ruang computer dengan raut muka yang masam. Dia menghampiri Didil dan Udin yang tengah asyik bermain  computer ).
Pak Achmad
:
“Didil…sini!”
Didil
:
( Didil beranjak dari tempat duduknya dan memenuhi panggilan Pak Achmad ). “Ada apa Pak ?.”
Pak Achmad
:
“Kurang ajar ! PLAAK !.” ( Pak Achmad menggampar pipi Didil ).
Didil
:
“lho… kenapa Pak Achmad memukul saya ?.”                          ( Didil mengusap pipinya ).
Pak Achmad
:
“Kamu mau tahu apa kesalahanmu ?. Kamu itu sudah mau ngerusak sekolah ini!. Nanti temui saya di kelas.” ( Pak Achmad meninggalkan ruang computer ).
Didil
:
“Din kau tahu nggak. Masak aku dikira mau ngerusak sekolah ini.” ( Didil masih memegang pipinya dan kembali duduk di samping Udin ).
Udin
:
“Aku nggak ikut campur Dil ….”
Didil
:
( Didil menepuk punggung Udin sedikit keras ). “Ini semua gara-gara Hilmy. Anak sengak itu . Awas kau Hil !. Eh, Din kok kamu mau temenan sama Hilmy?.”
Udin
:
“Kami memang temenan dekat, tapi akhir-akhir ini hubungan kami agak renggang. Dia sibuk dengan buku-buku Ensiklopedinya. Dan sudah tak peduli dengan ku.”
Didil
:
“Tinggalin aja dia. Buat apa berteman dengan orang seperti itu. Mending gabung sama aku saja. Kita bisa bebas tanpa ada yang mengganggu.”
Udin
:
Maksudmu Dil ?.”
Didil
:
“Besok pagi kutunggu kamu di gardu ujung Desa. Kamu akan tahu kebebasan sebenarnya.”
SCENE 9
PEMAIN :
  1. Didil
      2.   Udin
9. EXT : DIGARDU – PAGI HARI
            ( Didil sedang duduk santai sendirian di sebuah gardu di ujung Desa. Letak Gardu itu sangat jauh dari jangkauan masyarakat. Dia sedang asyik menikmati hisapan rokoknya. Udin yang pikirannya sedang kalut akibat surutnya hubungan persahabatan dengan Hilmy memenuhi undangan Didil tempo hari untuk bergabung dengannya ).
Udin
:
“Eh.. Dil…” ( Udin memanggil Didil ).
Didil
:
“Eh, kamu Din….tak kiirain kamu nggak datang.”
Udin :
:
“Jadi di sini tempat nongkrongmu kalau bolos sekolah.”
Didil
:
“Iya, Din.”
Udin
:
“Trus apa yang kamu lakukan disini ?.”
Didil
:
“Ini dan ini …”( Didil menunjukkan dua buah benda ).
Udin
:
“Itu apa Dil ?”
Didil
:
“Ini alkohol dan ini serbuk ganja.”
Udin
:
“Apa??? Kamu mengkonsumsi barang-barang seperti itu. Sesat kamu Dil.”
Didil
:
“Eit…eit…eit…jangan bilang sesat dulu !. Kamu tahu tidak manfaat benda ini ?.”
Udin
:
“Tidak.” ( Udin menggelengkan kepalanya ).
Didil
:
“Polos banget kau Din. Sini aku jelasin. Dengan mengkonsumsi benda ini segala masalah yang ada di pikiran Kita akan terasa lenyap seketika. Kita akan memasuki dunia penuh imajenasi yang begitu mengasikkan. Kamu nggak percaya ?.”
Udin
:
(  Udin diam tidak memberi jawaban ).
Didil
:
“Kalau kamu nggak percaya, cobalah ini !. Dan kamu akan percaya apa yang aku omongin tadi.”
Udin
:
“Terus makainya gimana ???.”
Didil
:
“Sini aku ajarin.”
            ( Akhirnya Didil dan Udin tak sadarkan diri akibat mengkonsumsi benda itu dan memasuki dunia bawah sadar ).
SCENE 10
PEMAIN :
  1. Rara                 3. Pak Achmad
  2. Emy                 4. Hilmy
  3. Fina
10. INT : DI DALAM KELAS - PAGI HARI
             ( Sudah beberapa hari Udin tidak masuk sekolah tanpa ada keterangan yang jelas. Dia masuk sekolah satu minggu satu hari dan itu Cuma jam olahraga. Hal itu membuat heran teman –temannya dan juga Pak Achmad ).






Rara
:
“ Ok, good posision… Before we begin the lesson lets pray together. Enough.”
Emy
:
“What will we do today ?
Hilmy
:
“Gimana kalau kita ….”
Pak Achmad
:
“Sorry, boleh ngganggu bentar ?. Siapa yang kangen sama Mas Udin ? ”
Fina
:
“Kenapa sih Pak ?.”
Pak Achmad
:
“Jadi gini, ketidakhadiran Mas Udin selama itu tidak mengganggu pelajaran kita dianggap nggak jadi soal.”
Emy
:
“Tapi kan, Pak kayak nggak niat sekolah gitu.”
Pak Achmad
:
“Asal nanti dia paham dan bisa menyusul kita itu sah-sah saja. Maksudnya dia bisa melakukan apa yang dia inginkan dengan sebaik-baiknya tapi kemauannya untuk belajar itu ada.”
Hilmy
:
Kalau Udin nanti jadi egois, Pak !.”
Pak Achmad
:
“Manusia nggak akan bisa hidup tanpa manusia lain. Dan tidak dikatakan egois jika ia tidak sengaja untuk merugikan orang lain.”
SCENE 11
PEMAIN :
  1. Rara                 3. Pak Achmad           5. Fina
  2. Emy                 4. Hilmy                      6. Udin

11. INT : DI DALAM KELASPAGI HARI
            ( Pagi ini Alternatif School telihat heboh. Pasalnya Udin yang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah, hari ini masuk. Kehadirannya itu disambut hangat oleh teman-teman dan juga Pak Achmad, gurunya ).
Pak Achmad
:
“Welcome to mas Syamsudin. Plok….plok…plok….” ( Pak Achmad bertepuk tangan diikuti semua murid yang ada di kelas itu ). “ Oh …aku mau ngomong dulu sama mas Udin. Mulai tiga hari yang lalu aku ikut di kelas tiga dan untuk selanjutnya aku akan mendampingi kelas tiga. Boleh ya mas Udin ?.”
Udin
:
( Mengangguk dan sedikit tersenyum ).”
Rara
:
“Udin kok nggak nanya sih kenapa Pak Achmad mau ikut terus di kelas kita.”( Rara menatap lurus ke Hilmy ).
Hilmy
:
“Lho lihat obyeknya dong. Masak lihat aku. Wah Rara naksir nih sama aku nih. Aduh mendingan jangan Ra entar sakit hati lho…”
Rara
:
Dasar Cemplon ke-GR-an. Tau nggak Din kenapa ?.”         ( Rara melihat kearah Udin sambil sedikit salah tingkah ).
Udin
:
“Tidak tahu.”( Udin menggelengkan kepala ).
Fina
:
“Karena kelas tiga kita makin kacau Din. Kalau tidak dikasih pendamping egonya makin pada gede-gede.”
Emy
:
“Filmnya gimana nih ?”
Pak Achmad
:
“Oh ya, film !. Aku usul yang jadi aktornya Mas Udin.”       ( Pak Achmad semangat ).
Hilmy
:
“Kalem Pak, kalem. Gembes kan belum tau duduk perkaranya.”
Pak Achmad
:
“Lho kok gembes sih, Hil ?.”
Hilmy
:
“Iya Pak, gini ceritanya. Waktu aku, Udin dan Didil main petasan di tepi sawahnya Mbah Salimi, eh.. ternyata Mbah Salimi ada di situ. Melihat ada mbah Salimi kami langsung kabur. Dan saat kabur menghindari omelan mbah Salimi sepeda yang dinaiki Udin gembes Pak. Gitu Pak ceritanya.”






Emy
:
“Ok, Kang Gembes, ku jelasin. Kelas kita kan mau bikin film. Nah…, kemarin kan semua sudah ikut Casting.  Sekarang tinggal kang Gembes.”
Udin
:
“Casting apaan sih ?.”
Hilmy
:
“Come one, Mbes. Akting jatuh cinta. Gampang kok.”
Udin
:
“Wow…Jatuh cinta!.”
Pak Achmad
:
“Ayo Mas Gembes.” ( Pak Achmad menyemangati ).
Rara, Emy, Fina dan Hilmy
:
“Udin ! Udin ! Udin !......
Gembes ! Gembes ! Gembes !.”
Fina
:
“Ok, cut. Aku setuju Gembes yang jadi Vino”
Rara
:
“Gembes is the best.”
SCENE 12
PEMAIN :
  1. Pak Achmad               3. Emy
2.   Fina                             4. Hilmy
12. INT : DI DALAM KELASSIANG HARI
            ( Proses pembuatan film pun berlangsung. Semua crew sudah stand by untuk syuting.   Namun Udin sebagai actor utama tidak datang tanpa sebab yang jelas . Tidak hanya sekali, dua kali, bahkan sampai beberapa kali Udin tidak datang. Semua crew dan para pemain merasa kesal dengan kelakuan Udin tersebut. Pak Achmad pun turun tangan untuk mengatasi masalah ini ). 
Fina
:
Pak Achmad syutingnya gimana nih ?.”
Pak Achmad
:
“Maksudnya.”
Fina
:
“Itu lho Pak si Gembes nggak pernah ikut syuting. Padahal dia kan actor utamanya.”
Emy
:
“Aktornya lembek gitu gimana Pak ?.”
Pak Achmad
:
( Raut muka Pak Achmad berubah kecut. Kemudian dia terlihat mencari sesuatu ).
Hilmy
:
“Nyariin apaan sih, Pak Achmad.”
Pak Achmad
:
“Kunci motor !.”
Hilmy
:
“Emangnya mau kemana Pak ?.”
Pak Achmad
:
“Mau cari Si Udin dan Didil. Ini dia kuncinya. Nanti seusai sholat dzuhur anak-anak kelas tiga wajib ngumpul               di Masjid
 SCENE 13
PEMAIN :
1. Pak Achmad                       4. Didil                        7. Udin                                   
2. Hilmy                                  5. Fina
3. Rara                                     6. Emy
13. INT : SERAMBI MASJID – SIANG HARI SEUSAI SHOLAT DZUHUR
            ( Anak-anak kelas tiga Alternatif School berkumpul di serambi masjid di dekat sekolahan. Mereka sengaja di kumpulkan oleh Pak Achmad untuk melihat dan menyaksikan penginterogasian terhadap Udin dan Didil yang telah membuat permasalahan di sekolah ).
Pak Achmad
:
“Ok, kita mulai dari siapa dulu nih?.”
Rara
:
“Didil, Pak Didil.”
Pak Achmad
:
“Begini mas Didil. Kesalahan Mas Didil sudah begitu fatal dan sudah membikin saya marah.”
Didil
:
( Didil Cuma manggut-manggut dan terlihat sedikit gugup ).
Pak Achmad
:
“Kenapa kok mas Didil malah membawa mas Udin main, bukannya mendukung buat syuting kelancaran film kita. Terus kok malah nongkrong di gardu ujung desa dan merokok. Dimana tanggung jawab Mas Didil atas nama baik sekolah ini. Apa Anda memang sudah siap untuk meninggalkan sekolah kita, dengan segala kelakuan itu.”






Didil
:
Begini Pak, saya mengakui saya salah dan perbuatan saya itu bisa merusak nama baik sekolah. Dan setelah ini saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Pak Achmad
:
“Oke, selesai ya ? clear ? Mas Didil akan menuliskan segala kesalahan dan solusinya sendiri. Sekarang giliran Mas Udin.  Mas Udin masih mau syuting ?.”
Udin
:
“Ya, Pak masih .” ( Udin mengangguk dengan polosnya ).
Hilmy
:
“Terus kenapa kalau ada jadwal syuting kamu nggak datang. Cuma sekali doang. Itu pun pas bukan jadwalnya.”
Pak Achmad
:
“Terus tadi kenapa kamu nggak berangkat sekolah malah ikut si Didil ke gardu.”
Udin
:
“Nggak papa lagi malas aja.” (jjawab Udin dengan santainya ).
Pak Achmad
:
“Mas Udin kenal dengan Nabi Isa.
Udin
:
( Udin hanya mengangguk ).
Pak Achmad
:
“Beliau diberi mu’jizat oleh Allah untuk bisa menyembuhkan segala jenis penyakit. Hanya satu penyakit yang benar-benar beliau sulit untuk menyembuhkan yaitu penyakit malas. Satu-satunya solusi adalah kita memang harus memaksa dan memotivasi diri kita untuk mengobati rasa malas itu.”
Udin
:
( Udin masih diam dan terlihat merenungkan kata-kata    Pak Achmad ).
Pak Achmad
:
“Oke, cukup untuk Mas Udin silahkan menulis kesalahan dan cara memperbaikinya.”
Udin
:
“Iya, Pak. Saya akan berusaha memperbaiki kesalahan saya dan menepati jadwal syuting.”
Emy
:
“Gitu dong, Din. Itu baru namanya mas Gembes.”
Fina
:
“Besok kami tunggu paling lambat jam enam untuk syuting terakhir. Awas kalau sampai nggak datang.”
SCENE 14
PEMAIN :
1. Didil                                    4. Udin                                   
2. Hilmy                                  5. Fina
3. Rara                                     6. Emy

14. INT : DI PERPUSTAKAANSIANG HARI
            ( Alternatif School telah kembali seperti dulu. Suasananya kembali riang dan penuh dengan kebersamaan. Udin sadar akan kesalahan-kesalahannya dan telah menemukan jati dirinya. Hubungan persahabatannya dengan Hilmy kembali harmonis ).
Rara
:
“Fina, Emy, Didil ayo kita latihan koor !.”
Fina,Emy dan Didil
:
Ayo, ayo, ayo.”
Rara, Fina, Emy dan Didil
:
JANGAN ENGKAU BILANG BEGITU
JANGAN PERNAH KAU HINA AKU
KARENA AKU YANG PALING TAHU
TENTANG MISTERI DI BALIK PUNGGUNGMU

ADA PANU
BANYAK SEKALI
ADA KURAP
LEBAR SEKALI
YANG MELIHAT PASTI KAN NGERI.
YANG MEMANDANG PASTI KAN GELI.”
Hilmy
:
“Heh, bisa dipelanin dikit nggak ? Brisik tau.”
Rara
:
“Eh…eh… Cemplon ngamuk, ayo kabur !.”
Fina, Emy dan Didil
:
Ayo, ayo, ayo.”





Hilmy
:
“Hai, Din.” ( Hilmy duduk mendekati Udin ). “Masih ingat kame Din ?.”
Udin
:
“Cupu banget. Gara-gara kamu nih aku ketularan.”
Hilmy
:
“Lho, kok aku sih. Kan kamu yang naksir.”
Udin
:
“Tapi kamu tuh virusnya. Sok ngajarin tentang cinta     segala. Yang akhirnya aku ditolak deh…………… ”
Hilmy
:
“Aku juga sudah mutusin Icha.”
Udin
:
“Hah ?” ( Udin kaget ). “Alah jangan gengsi, sononya kan yang minta putus ?.”
Hilmy
:
“Nggak percayaan amat sih. Aku sadar,Din aku ini masih kecil. Jadi mesti pinter dulu.”
Udin
:
“Banyak ceramah kamu.”
Hilmy
:
“Eh…diomongin bantah ! Serius nih.”
Udin
:
“Alah, Nonyet!.”
Hilmy
:
“Idih… vocab-mu sudah nambah ya. Ada kata monyet segala.”
Udin
:
“Aku bilang nonyet.” ( Udin mendekatkan mukanya tepat di depan kuping Hilmy )
Hilmy
:
“Sama aja, Gembes !.”
Udin
:
“Ya nggak lah, Cemplon. M sama N itu beda.”
Hilmy
:
“Lho mana ada kata….”
Udin
:
“Alah …Cemplon blo’on.”
Hilmy
:
“Dari pada kamu, Gembes…”.
Udin
:
“Cemplon!.”
Hilmy
:
“Gembes !.”
Udin
:
“Cemplon!.”
Hilmy
:
“Gembes………!.” ( Hilmy bangkit Sambil menjitak kepala Udin. Kemudian berlari ke luar ).
Udin
:
“Awas kau, Cemplon.” ( Udin oun lari mengejar Hilmy ).
































SINOPSIS

Dari Bahasa Yunani, Sekolah mempunyai arti waktu luang. Tentu saja waktu  luang yang penuh arti, yang ideal, yang tidak membosankan dan padat dengan pelajaran. Tentu saja setiap manusia akan punya sikap tidak sama dalam menginginkan itu. Mereka punya beragam ekspresi yang tidak bisa dipaksakan untuk sama. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Udin, Hilmy, Rara, Fina dan Emy adalah orang-orang yang berharap akan ada sekolah yang tidak mengekang ekspresi. Mereka ingin diberi  wadah pada saat-saat remajanya. Mereka ingin sekolah dengan peraturan yang sehat,, dengan kebebasan yang berprinsip, dengan berbagai ekspresi dan tentu saja dengan jalan alternative. Jalan yang bisa jadi bahan escape di tengah-tengah jalanan macet yang sama sekali tidak menguntungkan.

            Alternatif School menjawab harapan mereka. Sekolah yang mengutamakan kesehatan tanpa efek samping. Sekolah yang sangat banyak pilihan tanpa ada batas. Sekolah yang berlaboratprium raksasa berupa alam luas. Sekolah yang dipercaya bakalan bisa menghipnotis anak-anak bangsa untuk membunuh kemalasan. Mereka menyambut dengan begitu antusias saat Pak Bahruddin, Bapaknya Hilmy memproklamirkan akan mendirikan sebuah Sekolah yang akan menjadi wadah untuk mengebangkan potensi dan ekspresi siswa-siswanya. Udin, Hilmy, Rara, Fina dan Emy, Merekalah generasi pertama yang nantinya akan menjadi tonggak sejarah  masa-masa perjuangan Alternatif School dalam usaha mewujudkan visi dan misinya.

            Udin, Hilmy, Rara, Fina dan Emy begitu sangat enjoy sekolah di Alternatif School. Mereka dapat mengeksplor dan mengekspresikan bakat dan potensi mereka dengan tanpa adanya kekangan. Setahun berlangsung. Alternatif School berkembang begitu pesat. Murid-murid yang belajar di sana sudah mulai menunjukkan hasil karyanya.
Fina, dia membuktikan kalau artikel Onlinenya menumbangkan saingannya yaitu seorang kepala sekolah dari SMA Unggulan di Salatiga. Rara menulis Esai yang kemudian dimuat di media Indonesian-Aussea. Emy jadi artisnya Kompas. Si Udin pernah mau diikutkan turnamen sepak bola orang deawasa. Bahkan teater mereka sudah bisa dinikmati anak kampus. Namun, di sela-sela perkembangannya, Alternatif Scchool mulai di goncang beberapa permasalahan. Pokok permasalahan itu berasal dari salah seorang murid yang sudah terkena pengaruh buruk pergaulan kota. Kemudin Virus itu disebarkan luaskan kepada murid-murid di Alternatif School. Udin adalah salah satu korban yang terkena penyebaran virus itu. Pribadinya yang Introvert ( sangat pendiam ) berubah drastis dan mengarah pada tindakan-tindakan yang bertolak belakang dengan visi dan misi sekolah, misalnya : sering bolos sekolah, merokok, mimum minuman keras bahkan sampai tingkat mengkonsumsi narkoba. Pak Achmad selaku guru di Alternatif School berusaha keras untuk memecahkan masalah tersebut dan menyadarkan Udin dari kekeliruannya itu. Dengan kegigihan dan semangat kebersamaan, akhirnya permasalahaan itu dapat terselesaikan dan Udinpun bisa kembali seperti Udin yang dulu lagi.